Berikut Sejarah Jembatan Panus Depok, Peninggalan Kolonial Belanda

 

Terletak di Jalan Thole Iskandar Rt 04 Rw 07, Kota Depok. Jembatan panus tetap berdiri kokoh layaknya awal pembangunan pada tahun 1917 silam. Dengan panjang 100 m dan lebar 5 m, keberadaan jembatan ini nyatanya memiliki banyak manfaat. Lantas, bagaimana bisa jembatan ini dinamakan ‘Panus’? Berikut selengkapnya.

Sejarah Pembangunan Jembatan Di Depok

  1. Awal Mula Pembangunan Jembatan

Pembangunan jembatan pada mulanya dilakukan oleh seorang insinyur pada masa pemerintahan kolonial Belanda. Lazimnya, nama ‘Panus’ diambil dari nama warga yang tinggal di ujung jembatan ini, Stevanus Leander. Namun, kesulitan dalam melafalkan nama tersebut akhirnya disingkat dengan nama ‘Panus’.

  1. Fungsi Pembangunan Jembatan

Tujuan pembangunan jembatan oleh kolonial Belanda tak pernah jauh dari keperluan yang dibutuhkannya. Dalam hal ini, pemerintah awalnya melihat kesulitan warna pribumi dalam membawa hasil pertanian dan rempah-rempah dari Bogor ke Jakarta. Untuk itu, kolonial akhirnya memerintahkan insinyur untuk membangun jembatan.

Lebih dari sekedar jalur perhubungan dua daerah, jembatan yang satu ini nyatanya dapat difungsikan untuk kebutuhan masyarakat sekitar. Mandi, mencuci baju hingga mencari ikan dapat dilakukan di tempat ini. Dewasa ini, jembatan yang satu ini bahkan dapat digunakan untuk memantau debit aliran air ketika musim hujan.

Demikianlah ulasan yang dapat anda ketahui terkait jembatan di depok yang memiliki nama ‘Panus’. Lazimnya, pembangunan jembatan ini dikhususkan untuk memudahkan warga pribumi dalam membawa hasil bumi pada masa kolonial Belanda. Meski demikian, jembatan ini masih difungsikan hingga masa sekarang.

<a href=”https://resumecheap.com”>Berikut Sejarah Jembatan Panus Depok, Peninggalan Kolonial Belanda</a>